« February 2007 | Main | May 2007 »
LET’S
HAVE A PARKIA PARTY BOYS AND GIRLS!!
(Drama
Soneta Parkia speciosa)
Hmmh,
Harus
dimulai dari cerita yang mana ya supaya daku dapat membeberkan concern daku mengenai problema yang
sebenernya-ga-penting-tapi-kalo-dipikirkan-masak-masak-masak-masak-masak-yuuuuuuuuuuuk
(paragraph ini berakhir tak terjelaskan)
Oke,
jadi boys and girls, buat yang tidak tahu apa itu Parkia speciosa, Parkia
speciosa adalah tetumbuhan yang oleh orang kita digunakan sebagai: 1. Aditif
pada masakan 2. Lalapan, yakni Petai.
Seharusnya
tidak ada yang terlalu istimewa dengan Petai, memang baunya agak khas dan agak
tak lekang oleh perlakuan2 penghilangan bau yang umum dilakukan, serta waktu
saya kecil saya selalu menganggap bentuk petai yang elips cenderung bulat itu
agak mengingatkan saya terhadap kepala Ninja Turtle yang ramai digemari anak2.
NAMUN,
alasan – alasan demikian saya kira tidaklah perlu dijadikan alasan (terlalu
banyak kata ‘alasan’) untuk sebegitunya menyudutkan Petai sebagai makanan yang
derajatnya lebih rendah dibandingkan makanan2 lain.
Dengan
tidak pula bermaksud membela Petai, akan saya coba menengok kembali ke masa
lalu ketika harga komik elex media komputindo masih 3000 perak dan uang jajan
harian standar anak SD di jakarta masih 1500
perak (beli burger dwima 1000 perak, minum RC cola 500
perak, pulang naik jemputan). Kala itu sering saya
dengar selentingan antara teman sepermainan yang mendiskreditkan saudara Petai
(ngomong ala pengacara Hotman Paris) yaaaaaang sebenarnya saya pun turut ambil
bagian. Agaknya ungkapan bahwa pengalaman masa kecil adalah pengalaman yang
takkan terlupakan adalah ungkapan yang tidak salah juga.
Buktinya
sekarang banyak teman seangkatan saya (atau pleus mineus 1-2 taun laah) yang
menganggap aneh kebiasaan makan petai (Ih pete, lo doyan??). Yang kalo ditanya
(Emang lo udah pernah nyoba?) jawabnya (Belom sih, emang enak?). Lho lho jadi
atas dasar apa dong kebencianmu terhadap petai? Sungguh tak adil.
Pengalaman
yang serupa baru saja saya alami.
Scene
1 : Adegan musyawarah pemilihan menu makan bersama geng di restoran seafood
berakhir dengan 2 lalapan yang unexpected bagi dua kubu pembenci pilihan satu
sama lain. Kubu pro petai versus Kubu kontra petai. Adapun, anggauta kubu pro petai adalah S-A-Y-A, sedang anggauta kubu
kontra petai adalah orang2 purba pemakan terong (!!!!!) bakar (ew!). Sungguh
pilihan menu yang minim tenggang rasa- ck ck ck
Scene 2 : Adegan acara masak2 diskusi di rumah pacar di bilangan tubagus ismail (tubagus adalah surat). Saya menambahkan beberapa serpih petai untuk mempersedap lodeh yang sedang saya ramu. Selentingan komentar mencibir dari orang yang lalu lalang benar2 tak dapat dihindari. Ketika telinga mulai memanas, sembari mengacungkan sendok sayur saya pun bertanya: Emangnya pernah mencoba petai? (Ngga, emang enak ya?) Yeeeeeeeeeeee
Daaaaaan masih banyak kisah2 lain yang bagi saudara petai tentunya pasti menyayat hati.
Huh hah huh.
Oleh karena itu, wahai kawan, hayau, dobrak batas2
yang kau punya, cobalah petai, insya Allah engkau takkan mati keracunan,
mungkin malah ketagihan abis-abisan.
WEEEEAAAAAAAAAY!!!!